201606.13
0
0

bisnis e-commerce Indonesia dan problem laten UKM

Merdeka.com – Dari sekian banyak tren bisnis digital di Indonesia, sektor dagang online atau e-commerce menjadi yang paling hot. Buktinya, sektor ini masih terus dimasuki pemain baru dan akan terus bertambah di masa mendatang.

Contohnya, pada Senin (30/5) lalu, raksasa ritel modern di Indonesia, Alfa Group yang terkenal dengan jaringan ritel modern Alfamart dan Alfamidi, mengubah bisnis onlinenya dengan mengubah brand Alfaonline.com menjadi Alfacart.com.

Dengan memperluas segmen produk dan pasarnya, Alfacart.com kini bersaing dengan pelaku e-commerce lain yang lebih dulu eksis, macam Mataharimall.com, Bhinneka.com, Blibli.com, Bukalapak.com, Tokopedia.com, Elevenia, Lazada, dan lain-lain.

Kehadiran secara serius Alfacart.com ini membuktikan bahwa e-commerce masih menjadi sektor bisnis digital paling populer di Indonesia. Meski banyak juga sektor lain yang berkenbang seperti financial technology (fintech), ride sharing, dan lain-lain.

Sektor e-commerce bahkan menjadi wajah dari potensi bisnis digital di tanah air. Patut dimaklumi, dari sekian sektor usaha yang memanfaatkan teknologi digital, e-commerce adalah yang paling mudah dipahami.

Bahkan secara tidak langsung, banyak orang sudah melakukannya, saat akses internet Indonesia masih jauh dari akses 4G-LTE. Sehingga user experience-nya tinggi dn lebih mudah dipahami. Secara kultur, dagang sangat jamak dilakukan dan dipraktekkan oleh nenek moyang kita di wilayah pesisir.

Maka dari itu, e-commerce menjadi mudah populer di tanah air. Aplikasi mobile-nya di sistem operasi iOS dan Android Play Store masuk dalam kelompok aplikasi yang paling banyak diunduh oleh pengguna smartphone di Indonesia.

Sekadar sebut saja, di Google Play Store, per 31 Mei lalu, Lazada telah diunduh sebanyak 10 juta, OLX juga 10 juta, Tokopedia 5 juta, dan Bukalapak 5 juta. Sementara Blibli baru 1 juta unduh, Elevenia 1 juta, dan Bhinneka baru 100 ribu. Sementara Mataharimall.com telah diunduh 1 juta kali, padahal terbilang pemain baru karena baru komersial pada September 2015.

Euforia dan popularitas bisnis e-commerce ini makin kentara, saat dihelat event Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, akhir April lalu. Inilah pesta pertama orang e-commerce di republik ini dan terbilang sukses. Apalagi dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Pesta ini mampu mengumpulkan 600 peserta summit, 1.350 peserta workshop, dan 150 eksibitor.

Oleh karena itu, tak salah bila sektor e-commerce menjadi wajah dari kampanye pemerintah soal ekonomi digital Indonesia. Harapannya e-commerce menjadi enabler yang melahirkan dan menggerakkan seluruh potensi ekonomi digital di tanah air. Lewat kue manis e-commerce, pemerintah mendorong lahirnya technopreneur, targetnya 1.000 technopreneur pada 2020.

Itu pertama. Yang kedua, potensi bisnis e-commerce di Indonesia sangat besar. Jika tidak bisa dikatakan luar biasa besar. Lihat saja, penetrasi e-commerce kita baru 1 persen terhadap total transaksi ritel nasional. Artinya, dari 10 produk yang dibeli orang Indonesia, baru satu produk yang dibeli lewat internet. Penetrasi satu persen saja setara USD 30 miliar atau Rp 394 triliun di tahun ini.

Otomatis ada peluang 99 persen di masa depan. Tak heran bila pemerintah terus mendorong industri ini, antara lain dengan pembuatan road map e-commerce Indonesia di tahun ini. Goalnya adalah nilai transaski e-commerce nasional tumbuh menjadi USD 130 miliar di 2020. Meski masih kalah jauh dari negara lain, seperti Tiongkok, Inggris, Amerika Serikat, India, dan lain-lain.

Tapi dengan potensi populasi yang mencapai 260 juta jiwa, pengguna internet yang terus tumbuh, 180 juta prediksi tahun ini, serta penetrasi smartphone yang terus tumbuh double digit, satu keniscayaan e-commerce Indonesia akan masuk dalam kelompok dunia.

“Dengan dukungan seluruh kementerian dan pemangku kepentingan, pemerintah yakin target-target itu bisa dicapai. Ini kerja panjang yang memang membutuhkan daya tahan kita semua,” kata Menteri Rudiantara saat menghadiri event IESE 2016.

Emirsyah Satar, Chairman Mataharimall.com kepada Merdeka.com pernah mengatakan potensi bisnis ini di Indonesia sangat besar, sebagai negara berpopulasi keempat terbesar di dunia.

Berdasar data dimiliki Emir, pada 2014 Indonesia mencatat penjualan ritel online di bawah 1 persen terhadap total ritel nasional. Namun pada 2015 persentasenya naik menjadi 3,4 persen. Secara nilai, juga naik dari USD 1 miliar menjadi USD 1,7 miliar. Di kawasan ASEAN, secara persentase, penetrasi belanja online di Singapura tertinggi, tapi nilainya hanya USD 1 miliar. Sedangkan Thailand sebesar 3,8 persen dengan nilai USD 1,4 miliar dan Malaysia sekitar USD 500 juta.

Secara global, penetrasi belanja ritel online di Amerika Serikat tercatat 14 persen dengan nilai USD 270 miliar, Inggris mencapai 25 persen senilai USD 71 miliar, China sebesar 14 persen dengan nilai USD 293 miliar, dan India baru 8,2 persen dengan nilai USD 16 miliar.

“Jadi di Asia Tenggara, Indonesia sudah yang terbesar di belanja ritel online. Sekarang tantangannya bagaimana meningkatkan perdagangan online ini ke depan,” ujar Emirsyah.

Tantangan Online

Ya, di tengah populer dan massif bisnis e-commerce Indonesia, tantangannya adalah bagaimana memperbesar nilai bisnis ke depan.

Dari sisi jumlah pengguna, tentu bukan masalah, karena Indonesia negara No 4 terbesar di dunia. Sepanjang menawarkan akses belanja lebih mudah dan harga lebih murah, pengguna e-commerce di Indonesia akan semakin membludak. Ingat, kita punya modal 260 juta jiwa, dengan usia anak muda atau generasi milenial lebih dari 30 persen.

Namun, ada kekhawatiran, percuma e-commerce Indonesia besar jika, ternyata, ya ternyata, barang yang banyak dibelanjakan itu adalah barang impor. Artinya, benefit e-commerce dinikmati oleh produk luar negeri, lantas di mana nilai tambahnya bagi republik ini?

Kekhawatiran ini disampaikan oleh Andy Syarif, founder SITTI & Nurbaya Institute. Untuk itu, dia mendorong seluruh pelaku e-commerce Indonesia membantu meng-online-kan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Ada 57 juta UKM Indonesia yang sebagian besar belum memanfaatkan akses internet.

Padahal sudah terbukti UKM inilah penopang ekonomi nasional bangsa ini, dengan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Jumlah pekerja di sektor UKM juga luar biasa besar, 12 juta tenaga kerja yang berkontribusi 5,8 persen terhadap perolehan devisa negara. (data BPS 2014)

“Saat krisis moneter 1998, terbukti UKM menjadi penyelamat ekonomi nasional,” ujar Andy.

Karena itu, memberdayakan UKM dengan internet dan mendorong mereka masuk dalam ekosistem e-commerce, memiliki dampak luar biasa. Tidak saja bagi industri e-commerce, tapi bagi ekonomi digital Indonesia dan bangsa ini.

“Jika 55 juta UKM dapat diberdayakan dengan e-commerce, maka dampaknya akan sebesar 2 persen dari PDB Indonesia atau sekitar 570 triliun. Sungguh nilai yang fantastis. Ini juga menjadi jawaban untuk meningkatkan penetrasi belanja online di Indonedia,” kata Andy, beberapa waktu lalu.

Nah, kini tinggal pelaku e-commerce, apakah mereka mempunyai agenda untuk memberdayakan UKM Indonesia dengan internet. Raksasa e-commerce dari kelompok usaha besar Indonesia, macam Mataharimall.com milik Lippo Group, Blibli.com (Djarum Group), dan Bukalapak.com (Emtek Group), harus memiliki agenda jelas soal pemberdayaan UKM ini di market place-nya masing-masing. Inilah peran strategis mereka selain menangkap peluang bisnis e-commerce di masa mendatang.

Sekadar contoh, Mataharimall.com yang bercita-cita menjadi e-commerce nomor satu di Indonesia tentu mempunyai kontribusi strategis di sini. Bayangkan jika Mataharimall mampu meng-online-kan 500 ribu hingga satu juta UKM setahun. Maka dari lima e-commerce besar saja, agenda 57 juta UKM di Indonesia bisa segera online hanya dalam tempo kurang dari satu dekade.

Pelaku e-commerce besar harus menjadi solusi dari segala permasalahan laten UKM di Indonesia. Misalnya dalam hal branding, marketing, keuangan, hingga kualitas produk/layanan.

Seperti diketahui bersama, UKM Indonesia masih sangat lemah dalam hal-hal tersebut. Buktinya, kontribusi UKM terhadap neraca ekspor Indonesia masih rendah, sekitar 15 persen. Sementara di Thailand misalnya, kontribusi UKM nya sudah mencapai 40 persen terhadap ekspornya (data Kadin bidang UKM).

Dengan meng-online-kan 57 juta UKM di Indonesia, bukan saja nilai transaksi e-commerce Indonesia yang meroket menjadi USD 130 miliar di 2020, seperti target pemerintah. Tapi juga memberdayakan pemegang saham terbesar perekonomian bangsa ini. Maka, menjadi pantas, e-commerce menjadi wajah cantik potensi ekonomi digital Indonesia di masa mendatang. Semoga bisa dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *