201606.02
1
0

Hidayah Jualan Online dan Kain Kafan

Palembang – Saat ini, tak sulit untuk jadi pebisnis online. Cuma bermodal smartphone yang sudah terkoneksi internet, dalam satu menit kemudian dagangan Anda sudah tertata manis di etalase online.

Calon konsumen yang tertarik pun bisa datang dari mana dan kapan saja. Tinggal di sini dibutuhkan kemampuan masing-masing pemilik lapak untuk mendandani toko onlinenya agar lebih mampu merayu.

Begitulah gambaran singkat tentang bagaimana mudahnya memulai terjun ke bisnis online. Sudah banyak platform e-commerce yang bisa dimanfaatkan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Tinggal pertanyaannya, apakah mereka mau memulai?

‘Virus’ memanfaatkan digital marketing ini yang coba disebarkan kepada para pelaku UMKM di kota Palembang dalam seminar bertajuk Empowerment Digital Marketing untuk UKM di Hotel Aryaduta, Palembang, Jumat (22/6/2016) petang.

Rahmad Danu Andika, Business Partner BukaLapak yang menjadi salah satu pembicara menegaskan, rencana yang paling bagus adalah yang dieksekusi. Silakan para pelaku usaha memiliki visi bisnisnya sedemikian rupa, tetapi manfaatkan pula platform e-commerce yang sudah ada.

“Sebab di sini sudah tak adalah lagi hambatan dalam teknologi. Tinggal kapan Anda mendapat hidayah untuk mencobanya dan bakal bilang, ‘ternyata gampang ya jualan online’. Jadi jangan banyak rencana, eksekusi yang penting,” tegas Andika.

Ia menambahkan, modal yang dibutuhkan untuk memulai belanja online pun jauh lebih dari murah dibandingkan ketika kita ingin membuka toko konvensional. Dimana untuk menyewa toko fisik bisa menghabiskan duit belasan sampai puluhan juta rupiah. Sedangkan untuk memiliki toko online, bisa dengan modal nol rupiah.

“Di BukaLapak misalnya, coba saja Anda daftar dan mulai jualan, cukup lewat smartphone. Dalam waktu semenit kemudian, barang dagangan Anda bisa langsung muncul. Dan tanpa biaya, gratis. Tetapi bisa langsung dilihat oleh jutaan orang,” lanjut Andika yang menyebut BukaLapak memiliki 2 juta kunjungan per hari.

“Dalam suatu acara, saya sempat bertanya kepada audiens yang hadir untuk menyebutkan barang apa yang susah dicari di toko konvensional untuk coba dicari di BukaLapak, lalu ada yang nyeletuk kain kafan. Saya juga gak yakin ada sih, tapi pas dicari ternyata ada kain kafan saja ada yang jual, lengkap dengan Yasin dan lainnya,” lanjutnya.

Selain banyak hal bisa dijual, toko online juga bisa menarik banyak orang untuk terjun bersaing di dalamnya, termasuk dari negara lain dalam rangka dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Gak ada yang larang dong misalnya orang Thailand bikin pempek terus dijual. Karena pedagang di Vietnam dan negara tetangga kita lainnya itu sudah siap memasuki MEA. Jadi jika jangan sampai kalah, ranah digital adalah mutlak harus kita menangkan,” tegasnya.

Persaingan terbuka di bisnis online juga bisa membuat kita belajar dari kompetitor secara langsung. Misalnya ketika barang dagangan kita sudah puluhan orang yang melihat, kenapa tak ada yang bertransaksi? Apa yang salah?

Jika kondisinya seperti ini, Andika menyarankan, untuk sedikit melongok ke toko milik tetangga (dengan barang sejenis) untuk introspeksi diri. Sederhana saja, bandingkan foto yang kompetitor punya, keterangan produk dan harganya.

“Jadi kelihatan apa yang salah dengan dagangan kita,” ia menandaskan.

Zaman Siti Nurbaya ke Siti Badriah

Salama Sri Santi, Ketua Forum Tenaga Pendamping Usaha Mikro Kecil dan Menengah Sumatera Selatan menambahkan, UKM memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. Dimana bagi negara maju, salah syaratnya minimal harus memiliki 2% enterpreneur dari total penduduk.

“Kalau di Indonesia, jangankan 1%, masih kurang kita,” ujarnya acara yang dihadiri oleh para penggiat UMKM sekota Palembang ini.

Salama sendiri sudah sering kali menjadi tenaga pendamping untuk para UMKM. Dimana masalah yang kerap ditemui pun sudah berulang kali terjadi. “Dari zaman Siti Nurbaya sampai zaman Siti Nurhaliza dan Siti Badriah masalah yang biasa dihadapi UKM itu ada empat: manajemen, sumber daya manusia (SDM), modal, dan pemasaran,” ungkapnya, sembari berkelakar.

Dimana masalah-masalah tersebut sejatinya bisa diredam ketika pelaku bisnis terjun ke dunia digital. Misalnya dari segi pemasaran, lewat internet memungkinkan menarik para pembeli dari tempat yang tak disangka-sangka, begitu pula soal modal yang tak perlu uang banyak untuk menyewa toko fisik.

“Jadi fungsi kita selain untuk menciptakan entrepreneurship juga dapat membantu mereka naik kelas, dari pelaku usaha mikro menjadi kecil, dan jadi pengusaha menengah. Dimana salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan dunia digital,” pungkas Salama.

Seminar bertajuk Empowerment Digital Marketing untuk UKM di kota Palembang merupakan bagian dari program Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa) yang dilakukan Telkomsel.

Rencananya, Elang Barat dari ekspedisi ini akan melakukan pendaratan di Palembang pada hari Minggu (24 April 2016) untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandar Lampung. Ini menjadi pembuktian keandalan jaringan mobile broadband 4G LTE Telkomsel di 50 kota dari Sabang sampai Merauke.

Selain Elang Barat, Telkomsel juga melepas sebuah drone lain untuk menempuh jalur Timur, yang bernama Elang Timur dan diberangkatkan dari Merauke. Kedua drone dengan bentang sayap 2,4 meter itu akan menempuh jarak total sepanjang 8.500 km.

Selama sebulan penuh sejak 14 April hingga 14 Mei 2016, kedua drone itu akan merekam video yang kemudian diunggah melalui jaringan broadband Telkomsel. Sehingga masyarakat dapat mengikuti perjalanan secara lengkap, baik melalui live streaming maupun recorded di situs www.telkomsel.com/elangnusa.

Sumber : Detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *