201606.08
0
0

Visi Baru Pelaku UKM Surabaya: Go Global Go Digital Go Online

Surabaya – Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015, tiga agenda perbaikan, yakni Go Global Go Digital Go Online mulai digalakkan oleh komunitas Pahlawan Ekonomi (PE).

Untuk Go Global, PE menggandeng Kreavi dan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) melakukan, memperbaiki kemasan produk 10 UMK (usaha mikro kecil) lewat program tatarupa. Kesepuluh UMK tersebut, lima dari kategori food, lima lainnya dari handycraft.

“Kita ingin produk UMK bisa naik kelas. Dengan kemasan baru, produk bisa dijual di pasar yang lebih luas,” ujar Agus Wahyudi, humas PE Surabaya kepada detikcom, belum lama ini.

Untuk Go Digital, sambung dia, PE memanfaatkan internet marketing.

Pelatihan ini difokuskan untuk meningkatkan pemasaran produk para pelaku UMK di Surabaya. Dimana kaum ibu dilatih berbagai strategi pemasaran di dunia maya dengan memanfaatkan teknologi informasi.

UMK PE telah mendapat pelatihan dari pengelola situs e-commerce. Mereka datang khusus untuk berbagi trik dan tips berbisnis di media online pada kalangan UMK.

“Sedikitnya 150 UKM Pahlawan Ekonomi sudah membuka akun di bukalapak.com,” jelas Yudi, panggilan karibnya.

Menurut dia, pemasaran via online lebih hemat modal. Karena tidak butuh menyewa tempat, karyawan, administrasi, dan lain sebagainya.

Pemasaran online bisa dilakukan secara individu. Pun dengan jasa pengiriman bisa memanfaatkan pos maupun jasa swasta.

“Informasi yang diberikan via online kepada calon customer maupun customer relatif lebih global,” tandan Yudi.

Sedangkan lewat Go Financial, PE menggandeng Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sudah enam kali PE mengadakan pelatihan dasar literasi keuangan untuk pembiayaan atau investasi.

Dengan BEI, UMK PE diperkenalkan tentang semua instrumen investasi, yakni saham dan obligasi. Dengan bekal tersebut, keuntungan yang diraih UMK bakal lebih cepat. Peluang untuk memperbesar usaha pun menjadi lebih besar.

“Bursa Efek Indonesia juga memperkenalkan investasi pasar modal sekaligus jaminan syariahnya,” terang dia.

Sementara dengan OJK, telah dilaunching  Program Inklusi Keuangan pada 28 Mei 2015 lalu. Kemudian selama tiga bulan dilakukan pelatihan literasi keuangan terkait tabungan, asuransi, dan reksadana. Kegiatan ini didukung Bank Mega.

“Kami ingin pelaku UMK harus benar-benar memahami bagaimana caranya mereka mengelola keuangan dari hasil usahanya. Termasuk memahami risiko-risiko dari pengelolaan dan produk keuangan,” pungkas Yudi.

Sumber :Detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *