201605.31
0
0

Cerita Pempek Candy: Berawal dari Gerobak Kini Ekspansi Online

Palembang – Ali N. Janto alias Koh Agong masih ingat betul bagaimana dia merintis bisnis pempeknya. Semua berawal dari modal Rp 200 ribu dan gerobak kecil.

“Ngapain kamu ngerumpi terus, ini duit nopeceng (Rp 200 ribu) bikin pempek sana. Ini kalau gak habis, panggil kita biar kita yang makan,” ujar Koh Agong mencontohkan bagaimana kerabatnya mendorong dia untuk berjualan pempek pada tahun 1994 silam.

Dan ternyata, lumbung rezeki Koh Agong memang berasal dari makanan khas kota Palembang itu. Sampai akhirnya ketika dulu cuma bermodal uang pas-pasan dan gerobak unyil (kecil) di pinggir jalan, kini Koh Agong dan saudaranya sudah jadi juragan pempek dengan 10 outlet.

Pempek Candy — demikian merek pempek hasil rintisan Koh Agong dari gerobak tersebut. Pempek Candy merupakan salah satu yang populer di Palembang, tak heran ia kerap jadi incaran para pelancong untuk dijadikan oleh-oleh.

Koh Agong mengungkapkan, dari awal berbisnis sampai sekarang, ia selalu membuat pempek di satu tempat supaya rasa khasnya tidak pernah berubah. Setelah dibuat di satu tempat baru kemudian didistribusikan ke cabang-cabangnya yang lain.

“Saingan memang banyak, tapi memacu semangat kita untuk jadi yang terdepan. Kita juga mempertahankan takkan buka franchise di mana-mana, mau tetap bertahan cuma di Palembang,” jelasnya.

Namun lain halnya dengan ranah online. Pempek Candy mungkin bisa dibilang lebih melek digital lantaran setelah terjun ke internet sejak 4 tahun lalu untuk melakukan pemasaran online, mulai dari media sosial atau lewat layanan instant messaging.

“Pencetusnya (masuk ke online-red.) itu anak saya. Dia yang memperkenalkan pempek kita ke internet,” ujar Koh Agong saat berbincang dengan detikINET usai acara seminar bertajuk Empowerment Digital Marketing untuk UKM di Hotel Aryaduta, Palembang, Jumat (22/6/2016) petang.

Diakuinya masuk ke digital marketing membuat omset Pempek Candy ikut terdongkrak. Sebab pesanan lebih banyak masuk dari berbagai kota lain, tak cuma mengandalkan outlet fisik yang terbatas di kota Palembang.

“Kenaikan omsetnya itu lumayan besar, padahal itu kita belum digarap secara maksimal secara marketing dan pemesanan,” lanjutnya.

Sejauh ini pesanan terjauh datang dari Kalimantan dan Aceh, namun Koh Agong memang membatasi untuk menerima pesanan dari tempat lain yang lebih jauh. Lantaran daya tahan Pempek Candy yang direkomendasikan tak lebih dari satu hari.

“Karena kita tak pakai pengawet, tapi setelah masuk freezer bisa sampai dua minggu. Cuma masalahnya kalau terlalu jauh takutnya pengirimannya gak bisa mengejar (batas satu hari-red.). Jadi kita terkendala itu,” lanjutnya.

Kini, lanjut Koh Agong, penjual pempek semakin banyak yang ikutan terjun ke dunia maya untuk memperluas jaringan bisnisnya. Bahkan diakuinya, tak sedikit yang menggunakan nama Pempek Candy.

“Ya, kita sebenarnya gak masalah (nama Pempek Candy dipakai orang lain-red.). Cuma yang kita khawatirkan, mereka menggunakan boks (paket penjualan) kita tetapi isinya pempek lain. Nanti kalau kurang enak pempeknya kita kan yang kena,” ia menambahkan.

Tetapi ke depannya, Koh Agong ingin lebih memaksimalkan digital marketing untuk ekspanis bisnis Pempek Candy. Nanti dilihat segmen mana yang tepat beserta platform internetnya. Termasuk mempersiapkan tim tersendiri untuk mengurus hal tersebut agar pelanggan online mereka bisa lebih tergarap optimal.

UMKM — termasuk penjual pempek — merupakan salah satu pengusaha kecil yang tengah didorong di Palembang untuk merasakan manisnya digital marketing.

Palembang pun jadi kota yang bakal dilalui Elang Barat lewat program Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa) Telkomsel. Ini menjadi pembuktian keandalan jaringan mobile broadband 4G LTE Telkomsel di 50 kota dari Sabang sampai Merauke.

Elang Barat memulai perjalanan dari Sabang dan akan menempuh beberapa kota di antaranya Medan, Palembang, Tasikmalaya, Yogyakarta dan Malang. Sementara Elang Timur, akan berangkat dari Merauke dan bergerak melewati Sorong, Ambon, Manado, Banjarmasin, Makassar, dan Labuan Bajo.

Di akhir perjalanan kedua drone akan bertemu dan mendarat di Garuda Wisnu Kencana, Denpasar. Selain menangkap berbagai keindahan dari alam Indonesia, dalam perjalanannya, Elang Barat dan Elang Timur juga akan menyapa masyarakat yang berada di kota-kota yang dilewati.


Sumber : Detik.com : http://inet.detik.com/read/2016/04/23/114259/3194916/328/cerita-pempek-candy-berawal-dari-gerobak-kini-ekspansi-online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *